21 Oktober
Oktober 22nd, 2009 by nafaizzahSiang itu matahari serasa tidak bersahabat denganku. Panasnya begitu membakar kulit, hingga aku harus mengeluarkan payung untuk melinduni wajahku ini. Biar saja para sisiwa mengatakan aku ini guru yang sangat “nggaya” yang penting kulitku tidak terbakar. Entah kenapa perasaanku tidak karuan siang itu. Aku pikir itu bukan pengaruh matahari, tapi ada hal lain yang membuat ku gelisah. Secepat kilat kuayun langkahku tak menghiraukan perasaanku siang itu. Tepat di depan sekolah aku bersimpangan dengan bapak kepala, kuberikan senyuman termanis sambil tetap berjalan, aku tidak tahu bapak kepala membalas senyumku atau tidak. Di depan gerbang ku liat kanan – kiri siap menyebrang jalan, tapi…”Gubrak…Tin…Tin Ciet…” Suara itu masih sempat terdengar sangat keras sejurus kemudian aku tak tahu apa yang terjadi.
Kepalaku terasa berat saat aku mulai membuka mata ini, ku lihat di sisi kananku, suamiku tertidur di sofa. Oh apa yang terjadi pada diriku. Aku ingat pasti siang itu ada yang terjadi, tapi ini jam berapa? Hari apa? Ku tengok seluruh ruangan hanya dengan mataku. Ingin rasanya aku menekan bel yang ada di ujung pembaringan, tapi uh…tangan ini tidak sanggup bergerak. Lama aku mengunggu, hanya bisa mengerjapkan mata. Di atas hidungku tertempel selang oksigen dan tentunya selang infus juga tertempel di tangan kananku. Pasti ada sesuatu yang terjadi siang itu. Aku yakin aku mengalami laka lantas. Ternyata perasaan tidak enak yang menyergapku siang itu karena aku akan mengalami musibah.
Ku tatap suamiku yang terbaring, aku yakin suamiku teramat lelah menungguiku di rumah sakit. Ya Allah terimakasih Engkau masih menyelamatkan nyawaku.
“ Umi.…” Suara itu mengejutkan lamunanku
“ Umi sudah sadar? Sebentar Umi Abi panggilkan dokter yah…sebentar Umi. “ Air mataku menetes melihat kebahagiaan suamiku. Betapa besar cintanya padaku, lalu di mana si kecil Nasrul? Buah hatiku yang baru berusia 2 tahun. Bersama siapakah dia? Ah anak itu pasti mencariku. Terbayang senyum manisnya dan celotehnya kalau aku sakit dia selalu bilang.
“ Umi atit ya….” Ah Nasrul anak yang cerdas meski aku melahirkannya dengan cecar.
Pintu kamarku terbuka, bebrapa perawat masuk mendampingi dokter.
“ Alhamdulillah bu setelah 4 hari tidak sadarkan diri, ibu sudah sadar dan Alhamdulillah pula ibu diselamatkan dari amputasi kaki. “ Subhanallah, Allah menyelamatkan aku bertubi-tubi. Bagaimana aku bisa mengingkari nikmatmu yang tak terhingga. Kutatap mata suamiku yang berkaca-kaca. Entah apa yang dia pikirkan. Hanya sebentar dokter dan para suster meerikasaku dan mereka pergi dengan senyum mengembang seraya berkata.
“ Ibu bisa pindah ke ruang perawatan biasa. “ Aku baru tersadar ini ruang ICU dan aku boleh pindah. Semoga Allah kembali melancarkan jalanku. Trimakasih.
&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&&
Setelah 1 bulan aku berada di rumah sakit, akhirnya aku bisa pulang. Aku bisa menggendong lagi anakku Nasrul, 1 bulan sudah aku tak bersua.
“ Umi….” Teriak Nasrul begitu melihat kehadiranku.
“ Nasrul…ade lagi apa ? “ Sambutku sambil memeluknya, namun tanpa menjawab dia langsung menciumi pipi dan keningku. Tanpa sadar aku menangis dan dengan polosnya Nasrul berkata
“ Umi angis…tapa yang nakal? Abi yah? U…abi nakal….” Tawa renyahpun membahanya menyambut kedatanganku di rumah mungil yang hanya di tunggui ibuku selama aku berada di rumah sakit. Ibulah yang kerrepotan mengurusi Nasrul dan juga rumah. Alhamdulillah, semoga Allah memanjangkan dan memaafkan dosa ibuku.
Kurang apa Allah terhadapku. Aku ingat ada satu teman menulis Allah ternyata baik ya! Aku membalas tulisannya. Apakah kamu beru menyadarinya? Amazing ternyata ahari ini aku membuktikan kebaikan Allah. Allah memberiku keluarga yang sempurnya dan rizqi yang cukup meskipun kini…aku harus hidup selamanya di atas kursi roda. Yah kecelakaan itu telah membuat tulang belakangku tidak sempurna. Tapi aku tetap bersyukur dan aku akan berlatih menggunakan kaki baruku. Dalam hati aku berkeyakinan suatu hari pasti ada keajaiban an I will survive.